This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 06 Juni 2017

STRATEGI UNTUK MENGANALISIS DAN MEMASUKI PASAR ASING

STRATEGI UNTUK MENGANALISIS DAN MEMASUKI PASAR ASING



Disusun oleh :
Rochmatul Istikomah              (1431104)
Mamik Andriyani                    (14311005)
Safira Cahyani Ula M.            (14311014)
Annisa Marinda Salam            (14311040)



FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK
2017

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan globalisasi saat ini membuat peluang melakukan perdagangan bebas terbuka luas. Perdagangan bebas merupakan tantangan yang besar bagi sebuah perusahaan karena akan membuat persaingan yang ketat. Persaingan antar perusahaan membuat suatu perusahaan harus memiliki strategi yang tepat untuk memasuki pasar internasional.
Menurut Byson (2004:189-190) Strategi dapat dipandang sebagai pola tujuan program tindakan keputusan atau alokasi sumber daya yang mendefinisikan bagaimana organisasi itu, apa yang dilakukan dan mengapa organisasi melakukannya. Menurut Wheelen dan Hunger (2012:53) Manajemen strategi sendiri adalah sekumpulan keputusan manajerial dan aksi pengambilan keputusan jangka panjang didalam perusahaan.
Ekspor adalah tahapan paling awal dalam melakukan bisnis lintas negara. Menurut Madura (2007:16) mengekspor adalah penjualan produk atau jasa kepada pembeli yang berada di negara lain.
Menurut Keegan dan Green (2005: 297-305) aliansi Strategis dibagi menjadi lima yaitu : (1) Lisensi, (2) Waralaba: variasi lain dari strategi perusahaan lisensi dan sebuah kontrak antara sebuah perusahaan induk dengan pihak lain yang memperbolehkan pihak terwalaba mengoprasikan sebuah bisnis yang dikembangkan oleh pihak pewaralaba, (3) Usaha Patungan : usaha patungan atau joint venture adalah sebuah strategi untuk memasuki sebuah pasar host country dimana pihak mitra (lokal) memiliki kepemilikan bersama dalam sebuah perusahaan yang baru dibentuk, (4) Kontrak produksi : perusahaan berkonsentrasi pada desain produk dan pemasaran, dan mentransfer tanggung jawab untuk kepemilikan fasilitas-fasilitas produksi, (5) Investasi langsung: investasi langsung dilaukan untuk menghindari hambatan tarif dankuota, pengalaman untuk mentransfer teknologi, dan menyediakan teknik manufaktur baru.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana bisnis kemewahan bisa terjadi ?
1.2.2 Bagaimana cara menganalisa pasar asing ?
1.2.3 Bagaimana cara memilih masuk pasar asing yang tepat ?
1.2.4 Bagaimana cara mengekspor ke pasar asing ?
1.2.5 Bagaimana cara menggunakan lisensi internasional ?
1.2.6 Bagaimana cara menggunakan franchise internasional ?
1.2.7 Bagaimana cara masuk khusus untuk bisnis internasional ?
1.2.8 Bagaimana cara investasi asing langsung ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui bisnis kemewahan seperti apa.
1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana menganalisa pasar asing yang tepat.
1.3.3 Untuk mengetahui caramemilih masuk pasar asing yang tepat.
1.3.4 Untuk mengetahui mengekspor ke pasar asing bagaimana.
1.3.5 Untuk mengetahui caramenggunakan lisensi internasional.
1.3.6 Untuk mengetahui caramenggunakan franchise internasional.
1.3.7 Untuk mengetahui caramasuk khusus untuk bisnis internasional.
1.3.8 Untuk mengetahui carainvestasi asing langsung.

1.4 Manfaat
Supaya kita bisa mengetahui apa itu bisnis kemewahan. Kemudian, kita bisa mengetahui cara menganalisia, memilih masuk, mengekspor ke pasar asing. Selain itu, kita juga bisa mengetahui bagaimana caranya menggunakan lisensi, franchise, dan cara masuk khusus untuk bisnis internasional. Maka selanjutanya kita bisa mengetahui cara investasi asing secara langsung supaya kita bisa memasuki pasar asing lebih mudah.



BAB II
PEMABAHASAN

2.1 Bisnis Kemewahan
Christian Dior.Givench.DomPérignon.Louis Vuitton. Bagi sebagian besar dari kita, nama-nama tersebut membawa kesan kemewahan, keistimewaan, hal-hal yang lebih menyenangkan dalam hidup. Bagi Bemard Arnault, pemimpin sekaligus chief excecutive officer (CEO) dari konglomerasi mode senilai €28,1 miliar LVMH Louis Vuitton Moët Hennessy SA-atau lebih sederhananya, perusahaan Prancis, LVMH dikendalikan oleh sebuah grup yang dimiliki keluarga: Pada kasus LVMH, keluarga Amault memiliki 46,4% dari saham-sahamnya serta 62,7% dari hak suara. Sebanyak 45% lainnya dimiliki oleh lembaga-lembaga investor di Prancis, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa lainnya. Sisanya dimiliki oleh beberapa individu.
LVMH berada dalam bisnis penjualan prestise. Perhatikanlah laporan tahunan perusahaan tersebut: Menampilkan portofolio dari produk-produk perusahaan dalam warna yang memukau, lebih terlihat seperti majalah mode kelas atas daripada kompilasi membosankan dari laporan keuangan perusahaan. Pada tahun 2010, misalnya, botol-botol dari Veuve Clicquot yang ditemukan di tengah-tengah sisa puing-puing kapal abad ke-19 yang karam di Laut Baltik. Para publisis LVMH membiarkan hal itu diketahui bahwa sampanye yang tenggelam mempertahankan kualitas organoleptiknya yang mengagumkan – sebuah pilihan kata yang menarik untuk pasar target Veuve Clicquot. Sister brand-nya, Dom Pérignon, kembali ke tahun 1688, ketika bisnis koper Loius Vuitton dimulai pada tahun 1854. Tag Heuer, merayakan ulang tahunnya yang ke-150, menerbitkan ulang sebuah lini jam tangan tahun 2010 yang didasarkan pada koleksi tahun 1887-nya, dan Chaumet meluncurkan koleksi Joshepsine barunya, diberi mana serupa dengan tokoh pelindung paling pentingnya, istri Raja Napoleon, untuk mengingatkan para pelanggan akan silsilah kerajaannya.
LVMH sedang mengikuti sebuah strategi diversifikasi berhubungan. Mereka dengan cepat membentuk sebuah kestabilan liar biasa pada produk-produk mewahnya yang terdiri dari tesyen dan produk-produk kulit, wine dan minuman keras, parfum dan kosmetik, jam tangan dan perhiasan, serta unit-unit bisnis ritel strategis yang terpilih. LVMH telah menambah portofolio atas produk-produknya terutama dengan memperoleh perusahaan-perusahaan milik keluarga yang khusus bergerak dibidang manufaktur dan memasarkan produk-produk mewah. Meskipun LVMH biasanya mengoperasikan perusahaan yang diakuisisi sebagai anak perusahaan dan berdiri sendiri, eprusahaan induk mencoba untuk mengurangi biaya operasilnya dengan memusatkan bahan baku, pendanaan, serta akuisisi terhadap kepemilikan tetap. Tahun 2011, misalnya, LVMH membei produsen perhiasan berkualitas di Italia, Bulgari senilai $6 miliar. Keluarga Bulgari menukar  51% kepemilikkannya dengan 16.5 juta saham LVMH. Akuisisi Bulgari menggandakan pendapatan LVMH atas jam tangan dan perhiasannya. Meskipun Bulgari dijalankan secara independen, Amault yakin bahwa margin laba produsen perhiasan tersebut akan diuntungkan dari keahlian dan skala ekonomi dalam keuangan, lokasi toko, bahan baku, serta operasi di balik layar LVMH lainnya. LVMH juga akan membantu Bulgari memperluas kehadirannya di Asia. Tentu saja, LVMH tidak selalu sukses, seperti yang ditunjukkan melalui upayanya untuk membeli Hermés Internasional. LVMH secara diam-diam membeli 20% saham perusahaan tersebut, tetapi penerus Thierry Hermés, pendirinya, menciptakan sebuah perusahaan yang dimiliki keluarga untuk melawan usulan pembelian itu.
Walaupun terdapat unsur kemewahan dalam lini produknya, LVMH berhasil melalu resesi global dengan baik. Meskipun perusahaan menderita pedanpatan yang datar dan berkurangnya pendapatan pada titik terendah resesi global tahun 2009, pedanpatan dan laba mereka selanjutnya melonjak. Pada tahun 2012, mereka menghasilkan laba €5,9 miliar, naik hampir 50% melebihi level mereka pada tahun 2010. Grup Fesyen dan produk-produk kulitnya memipin dalam besarnya perolehan laba tersebut, dengan menghasilkan laba €3,3 miliar pada pendapatan senilai €9,9 miliar. Perusahaan meyakini bahwa kesuksesannya terletak pada “mempertahankan nilai produk-produk bintangnya, kreativitas sebagai kewajiban mutlak, pencarian kesempurnaan pada produk kami, serta upaya kami dalam menjamin lingkungan yang unggul.”
Bagi sebuah perusahaan dengan sejarah panjang dan terkenal di Eropa, LVMH secara penuh mengapresiasi kebutuhan untuk memperluas permintaan para konsumennya di luar negara maju. Sebelas persen dari pednapatannya diperoleh di tempat asalnya, Prancis, dan 20% lainnya dari beberapa negara di Eropa. Amerika Serikat dan jepang masing-masing berkontribusi 23% dan 8% pada pendapatan LVMH. Hal yang mungkin mengejutkan adalah bahwa Asia mengontribusikan 28% untuk pendapatan mereka, sebuah cerminan dari semakin tinggi pentingnya wilayah tersebut bagi perekonomian dunia serta komitmen LVMH untuk memenuhi aspirasi konsumennya di wilayah tersbut. LVMH memperkirakan Cina akan menjadi pasar terbesar untuk produk-produk mewahnya selama tahun 2020. Sebagai contoh, Cina telah memberikan Hennessy, produk cognac terkenal milik perusahaan, dengan pertumbuhan digit ganda selama tiga tahun terkahir. Dengan mempertimbangkan semakin meningkatnya kekuatan negara tersebut, Louis Vuitton menampilkan Godfrey Gao, seorang model dan bintang TV Taiwan-Kanada, dalam iklan-iklan terbarunya untuk tas pria yang mereka produksi.

2.2 Analisa Pasar Asing
Tanpa memandang strateginya, sebagian besar bisnis internasional memiliki tujuan-tujuan pokok dalam melakukan ekspansi pasar, pendapatan dan profit. Kemampuan perusahaan dalam melakukan hal tersebut secara efektif bertitik pusat pada pengembangan perusahaan melalui pemahaman yang mendalam tentang pasar geografis atau produk. Untuk meningkatkan pangsa pasar, pendapatan dan profit, perusahaan biasanya harus melakukan tiga langkah berikut : (1) melakukan penilaian terhadap pasar-pasar alternatif; (2) mengevaluasi biaya, keuntungan, dan resiko memasuki masing-masing pasar, dan (3) memiliki pasar yang paling potensial untuk dimasuki atau untuk melakukan ekspansi.

2.2.1 Melakukan Penilaian Pasar Asing Alternatif
Dalam menilai pasar luar negeri, alternatif perusahaan harus mempertimbangkan berbagai macam faktor, yang mencakup ukuran pasar, baik di masa sekarang maupun potensi di masa datang, tingkat persaingan yang akan di hadapi, lingkungan hukum dan politik, dan faktor sosiokultural yang mungkin mempengaruhi operasi dan kinerja perusahaan.
a. Potensi Pasar
Langkah pertama dalam pemilihan pasar luar negeri adalah menilai potensi pasar. Seperti yang terdapat pada “Membangun Kemampuan Dunia” di Bab 2 menyediakan data tentang populasi, Pendapatan Domestik Bruto (PDB), PDB per kapita, infrastuktur publik, dan kepemilkan barang seperti mobil dan televisi. Data-data seperti itu dapat dipakai oleh perusahaan untuk melakukan penyaringan pendahuluan yang “cepat dan kasar” terhadap berbagai pasar luar negeri.
b. Tingkat Persaingan
Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam memilih pasar luar negeri adalah tingkat persaingan di pasar, baik tingkat persaingan di masa sekarang maupun di masa datang. Untuk menilai lingkungan persaingan, perusahaan harus mengidenfikasikan jumlah dan ukuran perusahaan yang sudah bersaing di pasar sasaran tersebut, pangsa pasar, strategi penetapan harga dan distribusi, da kekuatan serta kelemaha, baik secara individu maupun kolektif. Perusahaan kemudian harus mempertimbangkan faktor-faktor ini terhadap kondisi pasar sesungguhnya dan posisi kompetitif perusahaan.
c. Lingkungan Hukum dan Politik
Perusahaan yang berusaha masuk ke pasar tertentu juga perlu memahami kebijakan perdagangan negara tersebut dan lingkungan hukum dan politiknya. Perusahaan dapat memilih untuk membatalkan ekspor barangnya ke negara yang memiliki tarif tinggi atau hambatan dagang lain dan lebih memilih ekspor ke negara yang hambatannya lebih sedikit atau tidak besar.
d. Pengaruh Sosial Budaya
Manajer yang menilai pasar luar negeri juga harus mempertimbangkan pengaruh sosiokultural yang, karena sifatnya yang subyektif, biasanya sulit di ukur. Untuk mengurangi ketidakpastian akibat faktor ini, perusahaan sering memfokuskan usaha awal internasionalisasi di negara-negara yang memiliki budaya yang sama dengan negara asalnya. Jika strategi yang di usulkan adalah memproduksi barang-barang di negara lain dan mengkspornya ke pasar yang sedang dalam pertimbangan, faktor sosiokultural yang paling relevan adalah faktor yang berhubungan dengan konsumen.

2.2.2  Mengevaluasi Biaya, Keuntungan, dan Resiko
Langkah selanjutnya dalam penilaian pasar luar negeri adalah evaluasi yang hati-hati tentang biaya, keuntungan, dan resiko yang berasal dari bisnis di pasar luar negeri.
a. Biaya
Dalam hal ini ada dua jenis biaya yang relevan: biaya langsung dan biaya kesempatan. Biaya langsung adalah biaya yang dikeluarkan pada saat perusahaan masuk ke pasar luar negeri yang baru dan meliputi biaya untuk mendirikan operasi perusahaan (misal: sewa-beli (leasing) atau membeli fasilitas tertentu, memindahkan manajer untuk menjalakannya, dan mengirimkan alat-alat dan produk barang dagangan. Perusahaan harus memasukkan biaya kesempatan. Karena perusahaan memiliki sumber daya yang terbatas, masuk ke pasar tertentu mungkin menghalangi atau menunda masuk ke pasar yang lain.
b. Manfaat
Di antara manfaat-manfaat potensial yang paling nyata adalah penjualan dan laba yang diharapkan dari pasar tersebut. Manfaat lainnya termasuk biaya akuisisi (perolehan) dan biaya manufaktur yang lebih rendah (jika bahan baku dan tenaga kerjanya murah), penutupan pasar ke pesaing (yang membatasi kemampuan pesaing untuk menghasilkan laba), keunggulan kompetitif (yang memungkinkan perusahaan untuk memimpin atau sejajar dengan pesaingnya), akses ke teknologi baru serta peluang untuk menerima sinergi dengan operasi lainnya.
c. Risiko
Tentu saja, hanya sedikit keuntungan yang dicapai tanpa melalui beberapa risiko. Beberapa bab sebelumnya memberikan gambaran luas mengenai jenis spesifik yang dihadapi bisnis internasional. Secara umum, perusahaan yang masuk ke pasar baru menghadapi risiko fluktuasi nilai tukar, kompleksitas operasi yang meningkat, dan kerugian finansial langsung yang disebabkan karena penilaian yang tidak akurat tentang potensi pasar. Dalam kasus yang ekstrim, perusahaan juga menghadapi risiko kerugian karena pengambilalihan properti oleh pemerintah akibat perang atau terorisme.

2.3 Memilih Cara Masuk (Made Of Entery)
Setelah menentukan pasar yang akan dimasuki, sekarang perusahaan dihadapkan pada keputusan yang lain. Teori elektrik Dunning, memberikan wawasan yang berguna mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan salah satu dari produksi negara asal(ekspor), produksi negara tuan rumah dipabrik yang memiliki perusahaan(FDI dan Joint Venture), atau produksi negara tuan rumah yang dikerjakan orang lain(Lisensi, Franchise, dan Kontrak Manufaktur). 






Gambar 12.1 Memilih Cara Masuk
Cara-cara Masuk













2.3.1 Keuntungan Kepemilikan
Adalah sumber daya nyata (tangible) dan tidak nyata (intangible) yang dimiliki perusahaan yang memberi keunggulan bersaing ke perusahaan itu di banding pesaingnya. Lebih jauh, keunggulan perusahaan adalah faktor penentu utama kekuatan tawar menenawar perusahaan; sehingga keunggulan ini dapat mempengaruhi hasil dari negosiasi cara masuk yang akan dipakai. Dengan mengasumsikan perusahaan local lebih mengetahui mengenai lahan asalnya daripada orang asing,perusahaan asing yang sedang mempertimbangkan untuk memasuki sebuah pasar baru seharusnya memiliki keuntungan kepemilikan tertentu yang memungkinkan mereka untuk mengatasi kewajiban keasingan.

2.3.2 Kewajiban Keasingan(Liability of Foreigness) 
Menggambarkan suatu kerugian informasi, politik, dan budaya yang di hadapi perusahaan asing ketika mencoba bersaing dengan perusahaan local di pasar negara tuan rumah. Sifat dari keuntungan kepemilikan perusahaan memengaruhi seleksi cara masuknya. Teknologi yang melekat, misalnya, biasanya paling baik ditransfer melalui mode ekuitas, saat perusahaan yang keunggulan kompetitifnya didasarkan pada nama merk yang dikenal baik kadang-kadang memasuki pasar asing melalui cara lisensi atau franchise. Selain itu, keunggulan perusahaan adalah penentu utama dari daya tawar, sehingga, mereka dapat memengaruhi hasil dari negosiasi cara masuk.

2.3.3 Keutungan Lokasi
Adalah faktor yang mempengaruhi keinginan perusahaan untuk memproduksi di negara tujuan dibanding memproduksi di negara asal. Perusahaan secara rutin membandingkan karakteristik ekonomi dan non ekonomi pasar dalam dan luar negeri untuk menentukan lokasi penempatan fasilitas produksinya.

2.3.4 Keunggulan Internalisasi
Adalah keunggulan yang membuat perusahaan diharapkan menghasilkan produk atau jasanya sendiri bukannya mengadakan kontrak dengan perusahaan lain untuk memproduksinya. Tingkat biaya transaksi (biaya bernegoisasi, memonitor, dan melaksanakan perjanjian) sangat penting dalam kepetusan ini. Jika biaya tersebut tinggi, perusahaan akan mengandalkan FDI dan usaha patungan sebagai cara masuk ke pasar. Jika biayanya murah, perusahaan akan memakai waralaba, lisensi atau kontrak manufaktur. Dalam membuat keputusan, perusahaan harus mempertimbangkan sifat keunggulan kepemilikan yang dimiliki perusahaan dan kemampuannya untuk menjamin hubungan kerja yang produktif dan harmonis dengan perusahaan lokal yang menjadi rekan bisnisnya.
















2.3.5 Faktor Lain
Faktor lain mungkin juga mempengaruhi pilihan cara masuk. Misalnya, perusahaan kemungkinan sangat mempertimbangkan pengendalian dan ketersediaan sumber daya. Kurangnya pengalaman di pasar luar negeri menyebabkan ketidakpastian bagi perusahaan. Untuk mengurangi ketidakpastian ini, beberapa perusahaan mungkin lebih suka cara masuk pertama kali yang memberikan tingkat pengendalian tinggi. Akan tetapi, perusahaan yang kekurangan modal atau eksekutif berbakat tidak akan mampu atau tidak ingin memberikan komitmen untuk menanamkan investasi dalam jumlah besar yang memerlukan pengendalian; perusahaan lebih suka cara masuk yang ekonomis menurut mereka, misalnya lisensi. Perusahaan kaya uang kas akan menganggap PMA lebih mengguntukan, karena yakin PMA akan memberikan potensi profit yang tinggi dan kesempatan untuk lebih menginternasionalisasikan pelatihan manajer-manajer muda yang berprestasi bagus.


2.4 Ekspor Ke Pasar Asing
Cara paling mudah untuk menginternasionalkan bisnis domestik adalah melakukan ekspor. Ekspor adalah proses pengiriman produk dan jasa dari satu negara ke negara lain untuk digunakan atau dijual di sana. Ekspor barang dagangan didalam peroekonomian dunia totalnya $18,4 Triliun pada tahun 2012, atau 26% dari total aktivitas perekonomian dunia, sedangkan ekspor jasa berjumlah $4,4 Triliun.
Ekspor memberikan beberapa keuntungan ke perusahaan. Pertama, perusahaan dapat mengendalikan keterpaparan finansialnya (financial exposure) pada pasar negara tujuan yang dianggap sesuai dengan keinginan.
Kedua, ekspor memungkinkan perusahaan dapat masuk ke pasar luar negeri secara bertahap, sehingga perusahaan dapat menilai kondisi lokal dan menyesuaikan produknya untuk memenuhi kebutuhan istimewa konsumen negara tersebut. Jika ekspornya diterima dengan baik oleh konsumen negara tujuan tersebut, perusahaan dapat memakai pengalaman ini sebagai dasar untuk masuk ke pasar tersebut dengan lebih ekstensif.
Perusahaan memiliki motivasi proaktif atau reaktif dalam mengekspor. Motivasi proaktif adalah motivasi yang menarik perusahaan ke pasar luar negeri karena adanya kesempatan di sana.Motivasi reaktif untuk mengekspor adalah motivasi yang mendorong perusahaan masuk ke pasar luar negeri, sering karena kesempatan di pasar domestik semakin menurun.











Tabel 12.1 Keunggulan dan kelemahan dari berbagai cara masuk.



























2.4.1 Bentuk-bentuk Ekspor
Ada beberapa bentuk aktivitas ekspor, yang mencangkup ekspor tidak langsung (indirect exporting), ekspor lansung (direct exporting), dan transfer intra korporat (intracorporate transfer).
1. Ekspor Tidak Langsung
Ekspor tidak langsung (indirect export) terjadi ketika perusahaan menjual produknya ke pelanggan domestik yang kemudian mengekspor produk tersebut baik dalam bentuk asli maupun dalam bentuk yang sudah mengalami modifikasi.
Gambar 12.2 Bentuk-bentuk Ekspor.





















2. Ekspor langsung
Ekspor langsung (direct exporting) terjadi melalui penjualan ke pelanggan, baik ke distributor maupun pemakai akhir yang berada di luar negara asal perusahaan. Ekspor langsung biasanya berasal dari usaha yang dimaksudkan untuk memperluas bisnisnya secara internasional.
3. Transfer Intraperusahaan
Bentuk ketiga aktivitas ekspor adalah transfer intrakorporat yang menjadi semakin penting karena ukuran perusahaan multinasional(MNC) semakin meningkat. Transfer interkorporat (corcorporate transfer) adalah penjualan barang oleh perusahaan tertentu dalam negara tertentu ke perusahaan aliansinya di negara lain.

2.4.2 Pertimbangan-pertimbangan Tambahan
Dalam mempertimbangkan ekspor sebagai cara masuk ke pasar, perusahaan harus mempertimbangkan faktor-faktor lain, selain bentuk ekspor yang dipakai, yang meliputi:
1. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan peningkatan ekspor, program pembiayaan ekspor, dan bentuk lain subsidi negara asal akan mendorong perusahaan memilih ekspor sebagai cara masuk. Sebaliknya, negara tujuan dapat saja meberlakukan tarif dan hambatan non tarif (NTBs) atas barang impor, sehingga mengurangi minat perusahaan untuk mengandalka ekspor sebai cara masuk.
2. Pertimbangan Pemasaran
Masalah pemasaran seperti citra, distribusi, dan respon terhadap pelanggan, juga dapat mempengaruhi keputusan untuk ekspor. Sering barang luar negeri memiliki citra produk atau status tertentu yang tidak dapat ditiru pada barang yang diproduksi secara domestik.
3. Pertimbangan Logistik
Pertimbangan logistik juga penting dalam keputusan ekspor. Perusahaan harus mempertimbangkan biaya distribusi fisik dari pergudangan (warehousing), pengepakan, pengangkutan, dan distribusi barang-barang, dan juga biaya menyimpan persediaan dan pelanggan luar negeri. Biasanya, biaya logistik itu akan lebih tinggi pada barang ekspor daripada barang yang diproduksi secara lokal. Namun, pertimbangan logistik tidak hanya masalah biaya. Karena ekspor berarti lini pasokan yang lebih panjang dan meningkatnya kesulitan dalam berkomunikasi dengan pelanggan luar negeri, perusahaan memilih untuk mengekspor dari pabrik domestik harus yakin bahwa perusahaan dapat mempetahankan tingkat pelayanan pelanggan yang kompetitif bagi pelanggan luar negerinya.
4. Pemasalahan distribusi
Isu terakhir yang mempengaruhi keputusan perusahaan untuk mengekspor adalah distribusi. Perusahaan yang berpengalaman dalam ekspor mungkin memilih untuk membangun jaringan distribusinya sendiri di pasar-pasar utama.

2.4.3 Perantara Ekspor
Eksportir juga dapat memasarkan dan mendistribusikan produknya di pasar-pasar internasional dengan memakai satu atau lebih perantara (intermediaries), yaitu pihak ketiga yang spesialisasinya mempermudah impor dan ekspor. Para spesialis ini menawarkan jasa yang terbatas seperti hanya menangani transportasi dan dokumentasi. Jenis-jenis perantara yang menawarkan berbagai jenis jasa meliputi: perusahaan manajemen ekspor (export management company), asosiasi Webb-Pomerene, perusahaan perdangangan internasional (international trading company), dan perantara lain.
1. Perusahaan Manajemen Ekspor
Perusahaan manajemen ekspor (Export Management Company=EMC) adalah perusahaan yang bertindak sebagai departemen ekspor kliennya. Kebanyakan perusahaan ini memiliki operasi yang kecil yang mengandalkan jasa dari sekelompok profesional. EMC biasanya beroperasi dengan salah satu dari dua cara.
2. Asosiasi Webb-Pomerene
Asosiasi Webb-Pomerene (Webb-Pomerene Association) adalah sekelompok perusahaan A.S yang beroperasi dalam industri yang sama diijinkan secara hukum untuk mengkoordinasikan aktivitas ekspor tanpa melanggar undang-undang antitrust A.S.

3. Perusahaan Perdagangan Internasional
Perusahaan perdagangan internasional (international trading company) adalah perusahaan yang ikut ambil bagian secaralangsung dalam ekspor dan impor berbagai jenis barang atas kepentingannya sendiri. Perbedaan perusahaan ini dengan EMC pada keterlibatannya baik dalam dalam aktivitas ekspor maupun impor.
4. Perantara Lain
Selain perantara yang memberi berbagai jenis jasa bagi eksportir dan importir internasional, ada banyak jenis perantara lain yang menawarkan jasa yang lebih terspesialisasi. Agen manufaktur: mengumpulkan pesanan domestik untuk produsen di luar negeri, biasanya atas dasar komisi. Agen ekspor manufaktur: bertindak sebagai departemen penjualan di luar negeri bagi produsen domestik dengan menjual produk perusahaan itu di pasar luar negeri. Broker ekspor dan impor: menghubungkan pembeli dan penjual internasional atas komoditi yang memiliki standar. Jasa pengangkutan barang: mengkhususkan diri pada transportasi barang secara fisik, mengatur dokumentasi pabean dan memberi jasa transportasi bagi kliennya.

2.5 Lisensi Internasional
Cara lain untuk masuk ke pasar luar negeri adalah melalui lisensi (licensing), yaitu perusahaan tertentu, yang disebut pemilik lisensi (licensor), menyewakan hak untuk memakai properti intelektualnya-teknologi, metode kerja, hak paten, hak cipta, nama cap, atau merek dagang ke perusahaan lain, yang disebut penerima lisensi (licensee), dan sebagai imbalannya peerima lisensi harus membayar fee. Lisensi merupakan elemen penting dalam strategi perusahaan internasional.





2.5.1 Proses Lisensi
Gambar 12.3 Proses Lisensi










2.5.2 Permasalahan Mendasar Dalam Lisensi Internasional
Hampir setiap perjanjian internasional adalah unik karena perbedaan strategi perusahaan, tingkat persaingan, sifat produk, dan kepentingan antara pemilik lisensi dan pemegang lisensi. Biasanya syarat perjanjian lisensi dituangkan secara khusus ke dalam kontrak hukum yang mendetail, yang mencakup isu-isu seperti:
1. Menentukan Batasan Perjanjian
Pemilik Lisensi (licensor) dan penerima lisensi harus menentukan hak dan keistimewaan yang diberikan dan juga yang tidak  diberikan di dalam perjanjian.
2. Menentukan Kompensasi
Kompensasi merupakan isu mendasar lain yang harus disebut secara spesifik dalam perjanjian lisensi. Kompensasi dalam perjanjian lisensi disebut royalti (royalty). Royalti biasanya dibayar ke pemilik lisensi dalam bentuk fee tetap, yakni jumlah tetap per unit yang terjual, atau yang paling umum.



3. Menetapkan Hak, Keistimewaan, dan Batasan
Isu mendasar lain yang harus dimasukkan ke salam perjanjian lisensi meliputi hak dan keistimewaan yang diberikan ke penerima lisensi dan batasan yang diberlakukan oleh pemilik lisensi.
4. Menetapkan Jangka Waktu Kontrak
Pemilik lisensi mungkin memandang perjanjian lisensi sebagai strategi jangka pendek yang dirancang untuk memperoleh pengetahuan tentang pasar luar negeri dengan biaya rendah dan risiko yang kecil.

2.5.3 Keuntungan dan Kerugian Lisensi Internasional
Lisensi membawa risiko finansial yang relatif rendah, sehingga pemilik lisensi dapat sepenuhnya menginvestigasikan kesempatan pasar dan kemampuan penerima lisensinya. Lisensi juga dapat membuat pemilik lisensi mempelajari lebih banyak tentang potensi penjualan produk dan jasanya di pasar baru tanpa komitmen sumber finasial dan manajerial secara signifikan. Penerima lisensi mendapat manfaat dari kesempatan untuk membuat dan menjual, dengan biaya riset dan pengembangan yang relatif rendah, produk dan jasa yang telah sukses di pasar internasional lain.
Meskipun demikian, perjanjian lisensi memiliki biaya kesempatan. Lisensi membatasi kesempatan pasar bagi kedua belah pihak. Tidak peduli seberapa hati-hatinya perjanjian lisensi dibuat, selalu ada risiko masalah dan kesalahpahaman. Perhatian terakhir adalah implikasi strategis jangka panjang dari pemberian lisensi teknologi oleh perusahaan. Banyak perusahaan merasa bahwa berbagai teknologinya dengan hati-hati akan menciptakan pesaing masa depan. Pemegang lisensi, dengan menghasilkan produk berdasarkan perjanjian lisensi, akan dapat mempelajari rahasia produksi dari pemilik lisensi atau mengembangkan sendiri cara berproduksi.


2.6 Francshise Internasional
Strategi populer lain dalam internasionalisasi bisnis adalah waralaba, yang sebernanya merupakan bentuk khusus lisensi. Waralaba (franchising) memungkinkan pemilik waralaba memiliki lebih banyak pengendalian terhadap penerima waralaba dan menyediakan lebih banyak dukungan dari pemilik waralaba kepada penerima waralaba daripada dalam kasus hubungan pemilik lisensi-penerima lisensi. Waralaba internasional merupakan salah satu bentuk aktivitas bisnis internasional yang berkembang pesat saat ini. Perjanjian waralaba memberi pengusaha independen atau organisasi, disebut penerima waralaba (franchisee), untuk mengoperasikan bisnis dengan nama pihak lain, yang disebut pemilik waralaba (franchisor), dengan imbalan berupa fee. Pemilik waralaba menyediakan merek dagang, sistem operasi, dan reputasi produk yang terkenal, serta jasa dukungan yang terus menerus antara lain iklan, pelatihan, jasa reservasi (untuk operasi hotel), dan program jaminan kualitas kepada penerima waralaba.

2.6.1 Permasalahan Mendasar dalam Francshise Internasional
Waralaba internasional akan sukses ketika beberapa kondisi pasar terpenuhi.
1. Pertama, sistem ini akan dapat berjalan ketika pemilik waralaba telah sukses secara domestik karena keunikan produk dan prosedur dan sistem operasinya yang canggih. Seperti perjanjian lisensi, perjanjian waralaba juga dimuat di dalam kontrak formal dengan beberapa persyaratan. Banyak perusahaan multinasional mengandakan waralaba untuk internasionalisasi operasinya.
2. Waralaba akan efektif juga ketika faktor-faktor yang memberikan kontribusi ada kesuksesan domestik dapat ditransfer ke lokasi di luar negeri.
3. Waralaba adalah pilihan yang dapat diambil jika pemilik waralaba telah meraih kesuksesan dalam waralaba di pasar domestik.

2.6.2 Keunggulan dan Kelemahan Francshise Internasional
Sisi positifnya, penerima waralaba dapat masuk ke bisnis yang memiliki produk dan sistem operasi yang sudah mapan dan terbukti kesuksesannya, dan pemilik waralaba dapat melakukan ekspansi internasional dengan biaya dan risiko yang relatif rendah.Sisi negatif, seperti pada lisensi, kedua belah pihak menurut perjanjian waralaba harus membagi pendapatan yang diperoleh di setiap waralaba. Waralaba internasional juga lebih rumit daripada waralaba domestik.

2.7 Cara Masuk Khusus Untuk Bisnis Internasional
Suatu perusahaan juga dapat memakai beberapa strategi terspesialisasi untuk ikut andil dalam bisnis internasional tanpa membuat investasi jangka panjang. Cara-cara khusus di antaranya kontrak manufaktur (contract manufacturing), kontrak manajemen (management contract), dan proyek turnkey (turnkey project).
1. Kontrak Manufaktur
Kontrak manufaktur (contract manufacturing) dipakai oleh perusahaan, baik besar maupun kecil, yang memakai sebagian besar atau seluruh sumber daya dari perusahaan lain (outsource) untuk memenuhi semua kebutuhan manufaktur bagi perusahaan lain. Strategi ini mengurangi sumber daya finansial dan manusia yang dimiliki perusahaan yang harus disediakan dalam proses produksi.
Keuntungan
1. Risiko finansial rendah
2. Memperkecil sumber daya  yang dipakai dalam proses
3. Memfokuskan sumber daya perusahaan pada elemen lain dalam rantai nilai
Kekurangan
1. Pengendalian yang kurang
2. Mengurangi potensi pembelajaran
3. Berpotensi timbulnya masalah kehumasaan – perlu memonitor kondisi kerja dll

2. Kontrak Manajemen
Kontrak manajemen (management contract) adalah perjanjian yang mengharuskan perusahaan tertentu menyediakan bantuan manajerial, keahlian teknis, atau jasa terspesialisasi kepada perusahaan kedua dalam jangka waktu yang telah disetujui dengan dasar kompensasi uang. Untuk jasanya tersebut, perusahaan pertama menerima flat fee atau persentase tertentu dari penjualan. Kontrak manajemen juga menentukan bonus kinerja berdasarkan profitabilitas, pertumbuhan penjualan, atau ukuran kualitas. Kontrak manajemen memperkenalkan perusahaan untuk memperoleh tambahan pendapatan tanpa mendatangkan risiko atau kwajiban investasi.
Keuntungan
1. Memfokuskan sumber daya perusahaan pada bidang keahliannya
2. Keterpaparan finansial yang minim
Kekurangan
1. Tingkat kembalian terbatas pada kontrak
2. Dapat pula secara sengaja mentransfer pengetahuan dan teknik mengenai kepemilikan ke pihak yang dikontrak
3. Proyek Turnkey
Strategi terspesialisasi lain untuk berpartisipasi dalam bisnis internasional adalah proyek turnkey. Proyek putar-kunci (turnkey projet) adalan kontrak di mana perusahaan setuju untuk merancang, membangun, dan melengkapi fasilitas tertentu dan kemudian menyerahkan proyek tersebut ke pembeli ketika sudah siap di operasikan (tanpa repot-repot lagi, pembeli dapat langsung memutar kunci guna memulai kerja di fasilitas itu). Kontrak putar kunci biasanya biasanya memakai harga tetap, yakni perusahaan memperoleh profit dari selisih antara biaya yang lebih rendah dengan harga tetap tersebut, atau kontrak juga memberikan metode pembayaran atas dasar cost-plus, yang memindahkan risiko biaya yang melonjak dari kontraktor ke pembeli. Jenis proyek putar-kunci yang semakin populer adalah apa yang disebut proyek B.O.T, dimana perusahaan membangun (build) fasilitas, mengoperasikannya (operate), dan kemudian mentrasfer (transfer) kepemilikan proyek tersebut ke beberapa pihak lain.
Keuntungan:
1. Menghindari semua risiko operasional jangka panjang
2. Memfokuskan sumber daya perusahaan pada bidang keahliannya
Kelamahan:
1. Risiko finansial (biaya yang tiba-tiba melonjak, dll)
2. Risiko konstruksi (penundaan, masalah dengan pemasok, dll)

2.8 Investasi Asing Langsung
Ekspor, lisensi, waralaba dan strategi terspesialisasi yang baru saja dibahas, semuanya memperkenalkan perusahaan untuk internasionalisasi bisnisnya tanpa melakukan investasi untuk pembangunan pabrik dan fasilitas di luar negeri. Ada tiga bentuk FDI (Foreign Direct Investment): (1) membangun fasilitas baru (yang disebut strategi greenfield), (2) membeli aset yang sudah ada di luar negeri (disebut strategi akuisisi atau strategi brownfield), dan (3) berpartisipasi dalam usaha patungan.
1. Strategi Greenfield
Melibatkan dimulainya operasi baru perusahaan dari tahap paling awal (kata “greenfield” berasal dari gambaran tentang proses pembangunan yang diawali dari lahan hijau yang masih kosong). Perusahaan tersebut membeli atau melakukan sewa-beli (leasing) tanah, membangun fasilitas baru, memperkejakan dan atau mentransfer manajer dan karyawan, dan kemudian meluncurkan operasi baru.
Strategi greenfield memiliki beberapa keuntungan. Dalam hal, perusahaan dapat memilih lokasi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan membangun fasilitas yang modern dan terbaru. Akan tetapi, strategi greenfield memiliki beberapa kekurangan. Dalam hal, implementasi yang sukses membutuhkan waktu dan kesabaran.
2. Strategi Akuisisi
Strategi FDI yang kedua adalah akuisisi perusahaan yang sudah ada yang menjalankan bisnis di negara tujuan. Dengan membeli perusahaan yang sedang berjalan, pembeli dapat langsung mengendalikan jalannya pabrik, para karyawan, teknologi, merek, dan jaringan distribusi perusahaan. Kadang-kadang beberapa bisnis internasional mengakuisisi perusahaan lokal sebagai alat untuk masuk ke pasar baru. Akuisisi dilakukan oleh perusahaan sebagai alat mengimplementasikan perubahan strategis yang besar.
Akan tetapi, strategi akuisisi juga memiliki beberapa kekurangan. Perusahaan yang mengakuisisi (the acquiring firm) menanggung semua kewajibannya-finansial, manajerial, dan lainnya – dari perusahaan yang diakuisisi (the acquired firm).
3. Joint Venture
Bentuk lain dari FDI adalah joint venture. Usaha patungan (joint venture) terjadi ketika dua atau lebih perusahaan sepakat untuk bekerja sama dan menciptakan sebuah perusahaan terpisah yang dimiliki bersama untuk meningkatkan kepentingan yang sifatnya saling menguntungkan. Kerjasama jenis ini semakin sesuai dengan perubahan yang cepat dalam bidang teknologi, komunikasi, dan kebijakan pemerintah yang melampaui kemampuan perusahaan-perusahaan internasional dalam mengeksploitasi kesempatan tersebut.



BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Menurut Byson (2004:189-190) Strategi dapat dipandang sebagai pola tujuan program tindakan keputusan atau alokasi sumber daya yang mendefinisikan bagaimana organisasi itu, apa yang dilakukan dan mengapa organisasi melakukannya.
LVMH sedang mengikuti sebuah strategi diversifikasi berhubungan. LVMH telah menambah portofolio atas produk-produknya terutama dengan memperoleh perusahaan-perusahaan milik keluarga yang khusus bergerak dibidang manufaktur dan memasarkan produk-produk mewah. Walaupun terdapat unsur kemewahan dalam lini produknya, LVMH berhasil melalu resesi global dengan baik. Perusahaan meyakini bahwa kesuksesannya terletak pada “mempertahankan nilai produk-produk bintangnya, kreativitas sebagai kewajiban mutlak, pencarian kesempurnaan pada produk kami, serta upaya kami dalam menjamin lingkungan yang unggul”.
Tanpa memandang strateginya, kebanyakan bisnis internasional memiliki sasaran fundamental yaitu melakukan ekspansi pasar, pendapatan dan profit. Untuk meningkatkan pangsa pasar, pendapatan dan profit, perusahaan biasanya harus melakukan tiga langkah berikut : (1) melakukan penilaian terhadap pasar-pasar alternatif; (2) mengevaluasi biaya, keuntungan, dan resiko memasuki masing-masing pasar, dan (3) memiliki pasar yang paling potensial untuk dimasuki atau untuk melakukan ekspansi.
Setelah menentukan pasar yang akan dimasuki, langkah selanjutnya adalah memilih cara masuk dengan menggunakan: keunggulan kepemilikan, kewajiban keasingan, keunggulan lokasi, keunggulan internalisasi, faktor lain.Cara paling mudah untuk menginternasionalkan bisnis domestik adalah melakukan ekspor. Ekspor adalah proses pengiriman produk dan jasa dari satu negara ke negara lain untuk digunakan atau dijual di sana. Perusahaan memiliki motivasi proaktif atau reaktif dalam mengekspor. Ada beberapa bentuk aktivitas ekspor yaitu: ekspor tidak langsung, ekspor langsung, transfer intraperusahaan.
Cara lain untuk masuk ke pasar luar negeri adalah melalui lisensi (licensing), yaitu perusahaan tertentu, yang disebut pemilik lisensi (licensor), menyewakan hak untuk memakai properti intelektualnya-teknologi, metode kerja, hak paten, hak cipta, nama cap, atau merek dagang ke perusahaan lain, yang disebut penerima lisensi (licensee), dan sebagai imbalannya peerima lisensi harus membayar fee.
Waralaba internasional merupakan salah satu bentuk aktivitas bisnis internasional yang berkembang pesat saat ini. Perjanjian waralaba memberi pengusaha independen atau organisasi, disebut penerima waralaba (franchisee), untuk mengoperasikan bisnis dengan nama pihak lain, yang disebut pemilik waralaba (franchisor), dengan imbalan berupa fee.
Perusahaan juga bisa menggunakan cara masuk khusus untuk Bisnis Internasional yaitu dengan cara: kontrak manufaktur, kontrak manajemen, proyek turnkey. Ekspor, lisensi, waralaba dan strategi terspesialisasi yang baru saja dibahas, semuanya memperkenalkan perusahaan untuk internasionalisasi bisnisnya tanpa melakukan investasi untuk pembangunan pabrik dan fasilitas di luar negeri. Ada tiga metode FDI: (1) membangun fasilitas baru (yang disebut strategi greenfield), (2) membeli aset yang sudah ada di luar negeri (disebut strategi akuisisi atau strategi brownfield), dan (3) berpartisipasi dalam usaha patungan.

PANTAI INDRAYANTI YOGYAKARTA

PANTAI INDRAYANTI YOGYAKARTA

Pantai Indrayanti Jogja, salah satu objek wisata pantai yang patut anda kunjungi di Kabupaten Gunungkidul. Jarak Malioboro ke Pantai Indrayanti adalah 66 KM atau setara dengan perjalanan roda dua sekita 1 jam 55 menit. Alamat Pantai Indrayanti Yogyakarta ini berada di Dusun Ngasem, Desa Tepus, Gunungkidul ini sangat berdekatan dengan destinasi yang familiar lainnya di Gunungkidul Jogja, yaitu Pantai Baron dan Pantai Krakal.
Lokasi Pantai Indrayanti Wonosari tepat berada di sisi timur Pantai Sundak, untuk lebih tepatnya bisa dilihat di Peta Pantai Indrayanti. Adanya perbukitan karang telah membatasi keduanya keindahan panorama yang ditawarkan Pantai Indarayati cukup unik dibanding pantai lainnya di Gunungkidul itu menjadi panorama tersendiri di jalan menuju Pantai Indrayanti. Bukan hanya bentang pasir putih yang sangat mempesona itu atau megahnya perbukitan batuan karang, tetapi kejernihan air lautnya hingga tampak biru bersih sangat menarik untuk menceburkan diri di sana.
Airnya memang belum terkontaminasi dengan aneka limbah. Tidak heran jika para penikmat perjalanan selalu sangat senang berenang dan bermain-main air di Pantai tersebut.
Instagram:
@mayyanze
@safiracah
@limas.awayna
@nysa_rv

Referensi:
https://tempatwisataindonesia.id/pantai-indrayanti/

PENGERTIAN DAN PENGGOLONGAN AKUN DI NERACA

PENGERTIAN DAN PENGGOLONGAN AKUN



Dibimbing oleh :
Wasti Reviandini, SE.,MM.


Disusun oleh :
Mamik Andriyani (14311005)





FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK
2017

Aktiva (assets)
Adalah semua hak yang dapat digunakan dalam operasi perusahaan. Aktiva dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bagian, yaitu:
Aktiva lancar (Current Assets)
Adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumer dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal).
1. Kas/bank (cash/bank) digunakan untuk membiayai operasi perusahaan. Uang tunai yang dimuliki oleh perusahaan tetapi sudah ditentukan penggunaannya (misalnnya uang kas yang disisihkan untuk tujuan-tujuan lain) tidak dapat dimasukkan dalam pos kas. Kas/bank adalah check yang diterima dari para langganan dan simpanan. Perusahaan di bank dalam bentuk giro atau demand deposito, yaitu simpanan di bank yang dapat diambil kembali (dengan menggunakan check atau bilyet) setiap saat diperlukan oleh perusahaan.
2. Investasi jangka pendek (Short-term investments) adalah investasi yang sifatnya sementara (jangka pendek) dengan maksud untuk menfaatkan uang kas untuk sementara belum dibutuhkan dalam operasi. Syarat utama agar dapat dimasukkan dalam investasi jangka pendek adalah bahwa investasi itu harus bersifat marketable; artinya setiap saat perusahaan membutuhkan uang, investasi itu dapat segera dijual dengan harga yang pasti. Yang termasuk dalam investasi jangka pendek adalah (1) deposito di bank; (2) surat-surat berharga yang berwujud saham obligasi dan surat hipotek, sertifikat bank dan lain-lain investasi yang mudah diperjual-belikan.
3. Wesel tagih atau promes (promissory notes ) adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang atas permintaan pada suatu waktu tertentu. Pihak yang meminta agar promes atau wesel dibayarkan disebut penerima pembayaran (payee ), sedangkan pihak yang membuat janji pembayaran disebut pembuat (maker). Tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam suatu wesel atau perjanjian yang diatur dalam undang-undang. Karena wesel pembuatannya diatur dengan undang-undang, maka wesel ini lebih mempunyai kekuatan hukum dan lebih terjamin pelunasannya; dan piutang wesel (notes receivable) ini dapat diperjual belikan atau diskontokan. Dengan didiskontokannya piutang wesel tersebut timbullah “contingent liability”, yaitu hutang yang mungkin akan terjadi dimasa mendatang pada saat jatuh tempo wesel yang bersangkutan Karena pembuat wesel tersebut tidak mampu membayar wesel bersangkutan.  
4. Piutang (credit) adalah tagihan kepada pihak lain (kepada kreditor atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang secara kredit. Pada dasarnya piutang bisa timbul tidak hanya karena penjualan barang secara kredit, tetapi dapat karena hal-hal lain, misalnya piutang kepada pagawai, piutang karena penjualan aktiva tetap secara kredit, piutang karena adanya penjualan saham secara angsuran, atau adanya uang muka untuk pembelian atau kontrak kerja lainnya.
5. Biaya dibayar dimuka (prepaid expenses) adalah pengeluaran untuk memperoleh jasa/prestasi dari pihak lain, tetapi pengeluaran itu belum menjadi biaya atau jasa/prestasi pihak lainitu belum dinikmati oleh perusahan pada periode ini melainkan pada periode berikutnya.
6. Persediaan (inventory) adalah untuk perusahaan perdagangan yang dimaksud dengan persediaan adalah semua barang-barang yang diperdagangkan yang sampai tanggal neraca masih digudang/belum laku dijual. Untuk perusahaan manufacturing (yang memproduksi barang) maka persediaan yang dimiliki meliputi: (1) persediaan bahan mentah; (2) persediaan barang dalam proses; dan (3) persediaan barang jadi. Seperti halnya investasi jangka pendek, persediaan ini dinilai berdasarkan harga yang terendah antara harga perolehan dengan harga pasarnya.
7. Pendapatan yang masih harus diterima (accured revenue) adalah pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa/prestasinya, tetapi belum diterima pembayarannya, sehigga merupakan tagihan.
8. Aktiva lancar lain-lain (other current assets) adalah menunjukkan kekayaan atau aktiva perusahaan yang tidak dapat atau belum dapat dimasukkan  dalam klarifikasi-klarifikasi sebelumnya. Misalnya: gedung dalam proses; tanah dalam penyelesaian; piutang jangka panjang dan sebagainya.
Aktiva tetap/tidak lancar (fixed assets/ non current assets)
Adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang fisiknya Nampak (konkrit). Syarat lain untuk dapat diklasifikasikan sebagai aktiva tetap selain aktiva itu dimiliki perusahaan, juga harus digunakan dalam operasi yang bersifat permanen (aktiva tersebut mempunyai umur kegunaan jangka panjang atau tidak akan habis dipakai dalam satu periode kegiatan perusahaan).
Yang dimasukkan dalam kelompok aktiva tetap ini meliputi: (1) Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan operasi, misalnya sebagai lapanga, halaman, tempat parker dan lain sebagainya; (2) bangunan, baik bangunan kantor, toko maupun bangunan untuk pabrik; (3) mesin; (4) inventaris; (5) kendaraan dan perlengkapan atau alat-alat lainnya. Aktiva tetap selain tanah, akan disusut selama jangka waktu/umur kegunaannya.
1. Aktiva tetap tidak berwujud (intangible fixed assets), adalah kekayaan perusahaan yang secara fisik tidak Nampak, tetapi merupakan suatu hak yang mempunyai nilai dan dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan. Yang termasuk dalam intangible fixed assets ini antara lain meliputi: hak cipta, merk dagang, biaya pendirian (organization cost), lisensi, goodwill dan sebagainya. Intangible fixed assets ada yang mempunyai umur yang tidak terbatas. Untuk intangible fixed assets yang mempunyai umur terbatas harus dilakukan penyusutan secara sistematis dan periodik selama umur ekonomis ataupun umur yuridisnya mana yang lebih pendek. Sedang yang mempunyai umur tak terbatas harus segera diadakan penghapusan bila ada alasan-alasan yang akurat bahwa aktiva tersebut secara ekonomis sudah turun manfaatnya atau nilainya.
Kewajiban/utang (liabilities/passiva )
Adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor. Hutang atau kewajiban perusahaan dapat dibedakan ke dalam hutang lancar (hutang jangka pendek) dan hutang jangka panjang.
1. Kewajiban lancar/utang lancar/utang jangka pendek (current liabilities) adalah kewajiban yang harus dilunasi dalam waktu tidak lebih dari 1 tahun/1 siklus normal operasi perusahaan, antara lain
Hutang usaha (account payable ) adalah kewajiban yang harus dilunasi karena pembelian barang/jasa secara kredit.
Hutang wesel/wesel bayar (notes payable ) adalah hutang disertai janji tertulis untuk membayar kepada pihak lain dalam jumlah tertentu dan pada tanggal yang telah ditetapkan.
Hutang pajak (taxes payable) adalah baik pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke kas Negara.
Hutang beban (load payable) adalah kewajiban membayar karena perusahaan sudah menerima manfaatnya, seperti utang bunga (interest payable ), utang gaji (salaries payable ), utang sewa (rent payable )
Pendapatan diterima dimuka (deferred revenue) adalah pendapatan yang belum merupakan hak, tetapi sudah diterima pembayarannya, contoh sewa diterima dimuka, bunga diterima dimuka.
2. Kewajiban jangka panjang/hutang jangka panjang (long term debt ) adalah kewajiban yang harus dilunasi dalam waktu lebih dari 1 tahun atau 1 siklus normal operasi perusahaan,diantaranya
Utang hipotek (mortgage payable ) adalah pinjaman jangka panjang dengan jaminan aktiva tetap.
Utang obligasi (debenture payable ) adalah pinjaman jangka panjang yang timbul karena perusahaan menjual/mengeluarkan surat-surat obligasi. Obligasi adalah surat bukti yang menyatakan bahwa pemegang obligasi meminjamkan sejumlah uang kepada perusahaan yang mengeluarkan obligasi tersebut.
Kredit investasi (investment credit) adalah pinjaman jangka panjang yang diterima bank atau lembaga keuangan lain yang digunakan untuk perluasa perusahaan.
3. Modal (capital) adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), suplus dan laba yang ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya.

ETIKA BISNIS ANTARA PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN DI INDONESIA

ETIKA BISNIS ANTARA PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN DI INDONESIA







Disusun oleh:
Mamik Andriyani
(14311005)
A-PAGI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI PRODI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK
2014-2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, penyusun dapat menyelesaikan penyusunan Artikel yang berjudul “Etika Bisnis Antara Pasar Tradisional dan Pasar Modern di Indonesia” dengan tepat waktu.
Artikel ini tidak akan selesai tepat waktu tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenanya penyusun menyampaikan terimakasih kepada:
1. Tri Ariprabowo,S.E.,M.Si. Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik
2. Moh. Agung Surianto,S,E.,M.S.M Ka. Prodi Ekonomi Manajemen
3. Munir Rahman Pembimbing Artikel
4. Semua pihak yang turut membantu pembuatan makalah ini yang tidak bisa penyusun sebutkan satu persatu.
Tak ada gading yang tak retak. Demikian pula, tak ada karya yang sempurna. penyusun mengharapkan kritik dan saran untuk kemajuan Artikel dimasa mendatang. Saya ucapkan terimakasih.


Gresik, 24 Juni 2015


Penyusun







BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kegiatan perekonomian dapat dikatakan berjalan apabila terjadinya transaksi perdagangan.  Salah satu transaksi perdagangan adalah transaksi yang terjadi di pasar baik di pasar modern maupun pasar tradisional.
Seiring perkembangannya, pasar modern mengalami perkembangan yang cukup signifikan.   Semakin banyak mal, shopping centre, department store berkembang di kota-kota baik kota kecil maupun kota besar.  Termasuk mini market kini pun sudah merambah ke pemukiman-pemukiman yang mengakibatkan warung-warung dan pasar tradisional pun semakin tersingkir.  Pola pikir dan gaya hidup yang modern mengakibatkan masyarakat lebih memilih berbelanja di pasar modern ketimbang di pasar tradisional.  Faktor kenyamanan juga menjadi salah satu alasan orang lebih senang belanja di Mall,Trade Centre, Department Store dan Shopping Centre lainnya, mereka beranggapan berbelanja di pasar modern lebih nyaman, dingin dan terjamin kebersihannya daripada harus belanja di pasar tradisional yang kotor, becek dan bau dengan sampah yang menggunung.  Di samping itu pasar retail sering menggelar diskon yang tidak mungkin didapatkan di pasar tradisional.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No.420/MPP/Kep/10/1997, Pasar adalah tempat bertemunya pihak penjual dan pihak pembeli untuk melaksanakan transaksi dimana proses jual beli terbentuk, yang menurut kelas mutu pelayanan dapat digolongkan menjadi Pasar Tradisional dan Pasar Modern, dan menurut sifat pendistribusiannya dapat digolongkan menjadi Pasar Eceran dan Pasar Perkulakan/Grosir.
Pasar tradisional merupakan pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah Swasta, Koperasi atau Swadaya Masyarakat dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda, yang dimiliki dan dikelola oleh Pedagang Kecil dan Menengah, dan Koperasi, dengan usaha skala kecil dan modal kecil. Selain itu, pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar yang terjadi. Pembeli berasal dari kelas menengah kebawah. Penjual kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, ikan, pakaian, barang elektronik, jasa, dan lain-lain. Selain itu, ada pun yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak di temukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan dan perkampungan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Sisi negatif dari pasar tradisional adalah keadaannya yang cenderung kotor dan kumuh sehingga banyak orang yang segan berbelanja disana. Beberapa pasar tradisional yang “legendaris” antara lain adalah pasar Beringharjo di Jogja, pasar Klewer di Solo, pasar Johat di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi “serangan” dari pasar modern. 
Pasar Modern adalah pasar yang dibangun oleh Pemerintah, Swasta, atau Koperasi. Pasar modern ini tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar sejenis ini penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pengelolaannya dilaksanakan secara modern, pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode) yang pasti, berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga dengan etika yang baik, dan bermodal relatif kuat. Pembeli berasal dari kelas menengah dan menegah keatas. Kelebihan pasar modern yang dirasakan oleh pembeli adalah dari segi pelayanan dan kenyamanan berbelanja lebih baik. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan seperti: buah, sayuran, daging, sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama, seperti: piring, gelas, pisau, kipas, dan lain-lain. Berbeda dengan pasar tradisional yang identik dengan lingkungannya yang kotor, pasar modern justru kebalikannya. Maka dari itu, masyarakat sekarang cenderung memilih pasar modern sebagai tempat belanja guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Contoh dari pasar modern adalah pasar swalayan, hypermarket, supermarket, dan minimarket.

2.2. Perbedaan Pasar Tradisional dan Pasar Modern dari segi etika bisnis
Pada pasar tradisional bertransaksi dengan konsumen secara tawar-menawar dilakukan setiap harinya sampai penjual dengan pembeli dapat menemukan harga yang cocok/sesuai dengan pembeli. Didalam pasar tradisional, setiap barang kebanyakan berbeda-beda penjual dan pastinya setiap penjual mempunyai karakter dan etika yang berbeda-beda dengan pembeli dalam berinteraksi. Ada penjual yang tidak mau barangnya ditawar sesuai keinginan pembeli, dan ada juga yang menjual barangnya sesuai harga yang diinginkan pembeli. Dipasar tradisional penjual tidak melakukan promosi dan diskon seperti yang dilakukan oleh pasar modern. Di pasar tradisional, penjual hanya bermodal pengetahuan yang minim untuk menarik pembeli. Hanya beberapa orang penjual saja yang mengerti bagaimana cara bertata karma yang baik dan benar dengan pembeli. Penjual di pasar tradisional, mereka tidak dituntut oleh siapa-siapa seperti pasar modern. Yang mereka fikirkan jika pembeli cocok dengan barangnya, maka pembeli itu akan membeli barangnya entah itu kualitasnya seperti apa. Padahal untuk menarik pembeli itu bukan karena kualitas dari barang tersebut, akan tetapi pelayanan yang ramah tamah yang sesuai dengan etika berbisnis, supaya pasar tradisional dengan pasar modern tidak jauh berbeda dari segi etikanya.
Pada pasar modern, pramuniaga dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk pembeli, karena dengan pelayanan yang terbaik, tempat yang nyaman dan lain-lain pembeli akan tertarik untuk berbelanja ke pasar modern. Mereka mengutamakan kenyamanan pelanggan, karena menurutnya pembeli adalah raja. Di pasar modern, kebanyakan pramuniaga diajarkan untuk mempunyai tata karma yang baik, sopan santun, ramah tamah dengan pembeli agar pembeli tidak kabur dengan pelayanan yang kurang memuaskan.
2.3. Studi Kasus
Sebuah Alfamart di Jalan Jendral Sudirman, Pekanbaru, Riau melakukan pelanggaran etika perdagangan yang dilakukan Alfamart dan juga akan matinya usaha perdagangan tempatan dan rumahan di kota Pekanbaru akibat lahirnya Alfamart dan Indomaret yang tidak mengantongi izin lengkap perdagangan sesuai undang-undang yang berlaku pada pasal 1 butir 5 Perpres112/2007 jo pasal 1 butir 5 Permendag 53/2008. Setiap toko modern dapat berbentuk suatu badan usaha badan hukum atau bukan badan hukum. Adapun karakteristik badan usaha hukum tersebut diantaranya, Izin Usaha Toko Modern (IUTM) dengan persyaratan berdasarkan pasal 12 dan 13 Perpres 112/2007 jo pasal 12 Permendag 53/2011 seperti Copy Surat Izin Prinsip dari kepala daerah setempat,  Hasil Analisa Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat serta rekomendasi dari instansi yang berwenang, Copy Surat Izin Lokasi dari Badan Pertanahan Nasional, Copy Surat Izin Undang-Undang Gangguan (HO), Copy Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Copy Akta pendirian perusahaan dan pengesahannya, Rencana Kemitraan dengan Usaha Mikro dan Usaha Kecil, Surat Pernyataan kesanggupan melaksanakan dan mematuhi ketentuan yang berlaku, Studi Kelayakan termasuk analisis mengenai dampaknya bagi pelaku perdagangan eceran setempat.  Selain itu, untuk implementasi perizinan toko modern akan mengacu pada peraturan pelaksana yang diterapkan oleh pemerintahan daerah setempat. Seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dimana setiap perusahaan perdagangan wajib memiliki SIUP. SIUP itu sendiri dibagi menjadi SIUP kecil, SIUP menengah, SIUP besar. Selain itu, Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang berdasarkan pasal 2 ayat (1) Permendag 36/2007. Selain itu, toko modern ini berdiri di dekat pasar tradisional, tentunya ini akan berdampak bagi pengusaha kecil di pasar tradisional tersebut dan mengancam kelangsungan usaha mereka karena pembeli akan lebih tertarik berbelanja ke tempat yang nyaman, bersih, dengan pelayanan mandiri. Untuk itu, dalam operasionalnya ritel ini perlu dievaluasi lagi oleh pihak-pihak yang berwenang dan itu harapan kita. Termasuk dampak sosialnya bagi para pengusaha kecil untuk ditinjau kembali.



BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pasar adalah tempat bertemunya pihak penjual dan pihak pembeli untuk melaksanakan transaksi. Pasar tradisional merupakan pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah Swasta, Koperasi atau Swadaya Masyarakat dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda, sedangkan pembelinya kebanyakan berasal dari kelas menengah kebawah. Pasar Modern adalah pasar yang dibangun oleh Pemerintah, Swasta, atau Koperasi. pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pengelolaannya dilaksanakan secara modern, pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode) yang pasti, berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga dengan etika yang baik, dan bermodal relatif kuat. Pembeli berasal dari kelas menengah dan menegah keatas. Seperti Swalayan, Hypermart, minimarket, dan supermarket.
Secara etika bisnis, pasar tradisional dan pasar modern mempunyai perbedaan yaitu dari segi pelayanannya yang kelihatan berbeda sekali. Dipasar tradisional penjual memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga etika bisnis dalam melayani pembeli kadang ada yang ramah kadang ada yang sebaliknya. Sedangkan pada pasar modern, pelaku bisnis dituntut untuk ramah tamah dan menjaga etika dengan pembeli.


DAFTAR PUSTAKA
Riauaktual.com/mobile/detailberita/3160#.VYIYxDOyTKk
https://a67532.wordpress.com/2010/05/13/perbedaan-antara-pasar-modern-dan-pasar-tradisional/
https://mheela69.wordpress.com/2011/07/06/pasar-modern-vs-pasar-tradisional/

CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT (CRM)

CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT (CRM)












Dosen Pengampu:
Dr. Indro Kirono MM.


Oleh:
Mamik Andriyani (14311005)





FAKULTAS EKONOMI PRODI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK
2016


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di tengah persaingan bisnis yang sangat ketat dewasa ini, perusahaan-perusahaan besar mulai mengalihkan perhatian mereka dari sekedar mengembangkan produk dan layanan yang unggul ke penciptaan pengalaman personal pelanggan. Hal ini dilakukan dengan suatu kesadaran yang utuh bahwa hubungan dengan pelanggan sangatlah penting di dalam pembentukan brand equity dan brand value yang pada gilirannya akan menciptakan lsan yang kokoh bagi perkembangan (growth) dan kelangsungan (sustainability) perusahaan. Sikap para top eksekutif perusahaan-perusahaan besar tersebut telah mendorong kemunculan Customer Relationship Management (CRM) yang secara konsep bukanlah hal yang baru, namun dalam proses implementasinya dewasa ini telah mengalami suatu perkembangan yang luar biasa sehingga impian untuk dapat menciptakan one-to-one relationship dapat terwujud. Customer Relationship Management telah terbukti memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap pembentukan brand equity dan brand value suatu perusahaan.Tahap penting di dalam CRM adalah implementasi, paper ini akan membahas bagaimana suatu CRM di implementasikan, faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan dalam pengimplemntasian CRM maupun saran tentang kunci dalampenerapan CRM.
Customer Relationship Management (CRM) merupakan salah satu sarana untuk menjalin hubungan yang berkelanjutan antara perusahaan dengan para stakeholder maupun shareholdernya. Saat ini banyak perusahaan yang memanfaatkan Customer Relationship Management (CRM) untuk menjalin hubungan dengan pelanggan. Dengan memanfaatkan CRM, perusahaan akan mengetahui apa yang diharapkan dan diperlukan pelanggannya sehingga akan tercipta ikatan emosional yang mampu menciptakan hubungan bisnis yang erat dan terbuka serta komunikasi dua arah di antara mereka. Dengan demikian kesetiaan pelanggan dapat dipertahankan dan tidak mudah berpindah ke lain produk dan merek sehingga diharapkan akan terjalin value chain yang kuat di antara mereka melalui customer relationship (hubungan dengan pelanggan). Untuk dapat meningkatkan CRM, perusahaan tidak segan melakukan investasi yang cukup mahal dan teknologi canggih yang mampu memberikan layanan yang maksimal bagi pelanggan.

1.2 Rumusan Masalah
Didalam makalah ini, penulis akan membahas tentang jenis-jenis, konsep desain, implementasi, cara pemakaian, infrastruktur, alasan diterapkannya CRM, hambatan, dan contoh aplikasi CRM.

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis CRM, konsep desain CRM, dan Implementasinya, selain itu bagaimana cara pemakaian CRM, infrstruktur CRM, alasan diterapkan CRM, hambatan CRM, dan seperti apa contoh aplikasi CRM didalam suatu perusahaan.

1.4 Manfaat
Supaya kita bisa mendapatkan wawasan tentang jenis-jenis CRM, konsep desain CRM, dan Implementasinya, selain itu bagaimana cara pemakaian CRM, infrstruktur CRM, alasan diterapkan CRM, hambatan CRM, dan seperti apa contoh aplikasi CRM didalam suatu perusahaan.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian CRM
Martin et al (2005, p.194) menambahkan “A CRM system attempts to provide an integrated approach to all aspects of interaction a company has with its customers, including marketing, sales and support. The goal of a CRM system is to use technology to forge a strong relationship between a business and its customers. To look at CRM in another way, the business is seeking to better manage its own enterprise around customer behaviors”. Kutipan ini menyatakan bahwa sistem CRM berusaha menyediakan sebuah pendekatan terintegrasi terhadap semua aspek dalam perusahaan dalam kaitannya dengan pelanggannya, yang meliputi marketing, sales and support. Tujuan dari sistem ini adalah dengan penggunaan teknologi diharapkan terjadi jalinan hubungan yang kuat antara perusahaan dengan pelanggannya. Dengan kata lain, perusahaan berusaha mengelola kinerja perusahaannya dengan lebih baik.
Menurut O’Brien (2002, p.130), “CRM uses information technology to create a cross-functional enterprise system that integrates and automates many of the customer serving processes in sales, marketing, and product services that interact with a company’s customers. CRM systems also create an IT framework that integrates all of these processes with the rest of a company’s business operations. CRM systems consist of a family of software modules that perform the business activities involved in such front office processes. CRM software provides the tools that enable a business and its employees to provide fast, convenient, dependable, and consistent service to its customers.” Kutipan ini berarti bahwa CRM menggunakan teknologi informasi untuk menciptakan cross-functional enterprise system yang mengintegrasikan dan mengotomatisasi proses layanan pelanggan dalam bidang penjualan, pemasaran, dan layanan produk/ jasa berkaitan dengan perusahaan.

2.2 Jenis jenis CRM
CRM yang terdiri dari ketiga konponen di atas memiliki tujuan secara umum yaitu untuk memaksimumkan keuntungan perusahaan sejalan dengan meningkatkan dan memelihara kepuasan pelanggan.
Secara garis besar, CRM dapat diklasifikasikan dalam  jenis, yaitu :
1.   Operational CRM
Mencakup otomatisasi yang terintegrasi dari keseluruhan proses bisnis, termasuk di dalamnya customer touch-points dan customer channels dan integrasi front office-back office.
Operational CRM mengoptimasi proses bisnis yang berinteraksi secara langsung dengan pelanggannya. CRM memiliki berbagai macam aplikasi yang diterapkan dalam pemasaran, penjualan dan pelayanan yang mendukung proses bisnis. Aplikasi proses bisnis yang menerapkan hal diatas tergolong dalam aplikasi operasional.
Aplikasi operational CRM dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.      Customer-Facing Application
Faktor utama dari aplikasi CRM Customer-Facing adalah contact center, Sales Force Automation, dan field service. Disebut Customer-Facing karena pada kenyataanya, pihak perusahaan ini langsun berhubungan dengan pelanggannya.
b.      Customer-Touching Applications
Faktor utama dari aplikasi CRM Customer-Touching application adalah Campaign management, e-commerce, dan Self-Service Customer Support. Disebut Customer-Touching karena pelanggan berhubungan langsung dengan aplikasi system daripada berhubungan dengan perwakilan perusahaan.
Strategi operational CRM ini memfasilitasi traditional CRM, yang berfokuskan bagaimana membuat pelayanan, penjualan dan atau departemen pemasaran lebih efisien dan meningkatkan profitabilitas perusahaan dan pelanggan. Sedangkan infrastruktur dan servis dari collaborative CRM mmbuat perusahaan dapat berinteraksi dengan channelnya, yakni semua pihak yang memungkinkan berhubungan dengan perusahaan.

2.   Analytical CRM
Merupakan proses analisis dari data-data yang dihasilkan pada Operational CRM. Tantangan bagi perusahaan sekarang ini adalah untuk mengerti apa yang menjadi permintaan pelanggan dan memberikan respon, secara lebih baik, mengantisipasi kebutuhan mereka. Namun, banyak perusahaan hanya berfokus untuk mengimplementasikan penggunaan CRM hanya sebatas untuk ‘mendengar’ kebutuhan dan keluhan dari pelanggan, yang pada praktisnya hanya berkonsentrasi pada komponen operational dan collaborative CRM, sehingga analisis akan pemahaman dan pengenalan terhadap pelanggan yang sebenarnya belum terjadi. Diperlukan komponen Analytical CRM untuk mengoptimalkan hubungan perusahaan dengan pelanggannya.
Analytical CRM memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan suatu pengetahuan akan pelanggan dan melakukan penaksiran atau estimasi terhadap pelanggan berdasarkan data-data analisis yang dipakai. Pengetahuan yang didapat perusahaan adalah tentang nilai pelanggan, yang dapat mendukung chanel pelayanan interaksi dengan lebih baik dan mendukung berbagai keputusan dalam mensinergi penerapan operational dan atau collaborative CRM dalam proses penjualan dan pemasaran produk, sehingga keudukannya menjadi sangat esensial bagi component CRM lainnya.
Analytical CRM merupakan feedback loop antara interaksi pelanggan yang realtime yang terjadi pada front-end atau back-end Scorecard untuk menganalisa apa yang telah terjadi dan bagaimana meningkatkan cara perusahaan berinteraksi dikemudian hari. Mengatakan bahwa analytical CRM adalah penggunaan data pelanggan untuk menganalisis, pemodelan dan evaluasi yang ditujukan untuk mendukung perusahaan untuk membentuk suatu hubungan yang profitable antara perusahaan dan pelanggannya.
Analytical CRM terdiri dari semua programming yang menganalisis data tentang pelanggan perusahaan, sehingga keputusan yang lebih cepat dan lebih baik dapat dihasilkan.
             Berdasarkan sebuah arkitel dalam Info World Analytical CRM dapat menyediakan hal-hal sebagai berikut :
1.      kelompok segmentasi pelanggan
2.      Analisa profitabilitas, mengetahui pelanggan mana yang profitable selama kurun waktu tertentu
3.      Personalisasi, kemampuan untuk memasarkan kepada pelanggan secara personal berdasarkan data-data yang ada tentang pelanggan itu.
4.      Event monitoring, yaitu segala aktivitas yang dilakukan pelanggan yang berkaitan dengan perusahaan dan begitu pula sebaliknya tindakan perusahaan terhadap segala yang berhubungan dengan pelanggannya, seperti promosi, transaksi, dan sebagainya.

Analytical CRM mampu melakukan segmentasi pelanggan, membedakan pelanggan yang memiliki profitabilitas tinggi dengan tingkat akurasi yang lebih matang, maka return on investement (ROI) akan suatu pelanggan dapa dipredeksi dengan baik. Dengan pengetahuan tersebut maka penawaran yang tepat, harga yang tepat dapat ditawarkan pada saat yang tepat, kepada pelanggan yang memang berpotensi untuk membelinya, hal ini akan mengoptimasi pelanggan dan perusahaan. Dengan kombinasi informasi tentang pelanggan dari semua sumber dan sarana informasi vital lainnya yang berinteraksi dengan pelanggan, maka perusahaan dapat memperoleh gambaran yang pasti tentang pelanggan dan perilakunya. Dengan demikian mendukung perusahaan dalam melakukan personalisai terhadap pelanggan dan menyesuaikan diri seiring dengan kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi dari permintaan pelanggan.
Analytical CRM digunakan juga sebagai alat untuk mengevaluasi profitabilitas pelanggan, berdasarkan segmentasi dari hasil analisa yang kuat, dan meningkatkan ROI dari pelanggan perusahaan. Dengan menganalisa profitabilitas pelanggan, perusahaan dapat melakukan segmentasi pelanggannya berdasarkan tingkat profitabilitasnya sehingga dapat menetapkkan target tingkat penjualannya terhadap masing-masing pelanggan. Langkah selanjutnya adalah menindaklanjuti feedback loop dari hasil analisa yang telah dilakukan untuk menentukan interaksi selanjutnya yang akan dibangun dengan pelanggan. 
3.   Collborative CRM
Aplikasi pelayanan yang terkolaborasi, seperti e-mail, personalized publishing, e-communities, forum diskusi, dan sarana lainnya yang dirancang untuk memfasilitasi interaksi antara pelanggan dan pihak perusahaan.
Perbedaan operational CRM dan Analytical CRM
Operational CRM
1.      Dibuat untuk menyediakan respon yang cepat kepada banyak user
2.      User mengakses dan mengupdate data
3.      User melakukan proses transaksi dalam waktu yang singkat
Analytical CRM
1.      Didesain untuk melakukan proses yang kompleks dan memerlukan waktu proses yang lama dan hanya digunakan untuk beberapa user saja
2.      Selama pemrosesan, jumlah data yang diproses banyak dan biasanya hanya dapat diretrive (read-only), dengan menggunakan query yang kompleks 

2.3 Konsep Desain CRM
Beberapa konsep desain dari system CRM adalah sebagai berikut:
1.      Data Collection: Issue yang penting dari CRM adalah bagaimana mengekspresikan perilaku pelanggan yang online ke dalam data.
2.      Data preprocessing: Data preprocessing meliputi semua aksi yang diambil sebelum proses analisis data actual dimulai.
3.      Data Mining: Tujuan dari data mining / analisis dalam CRM adalah untuk mengekstrak informasi yang perlu di dalam menyediakan layanan kepada pelanggan secara efisien.
4.      User Interface dan Customizing: Desain dari user interface merupakan faktor penting dari kemajuan system CRM.
5.      Knowledge Base: Perhatian utama dari system CRM adalah untuk mengerti dan membuat latihan yang berguna dari informasi pelanggan.
6.      Personalized Service: Sekarang ini, lingkungan bisnis yang kompetitif, yang menyediakan nilai bagi pelanggan merupakan hal yang penting untuk bisnis agar dapat bertahan. Cara menyediakan nilai bagi pelanggan adalah dengan mengenal pelanggan dan melayani secara indvidu.
7.      ASP (Application Service Provider): memandu dan mengatur aplikasi software kemudian mengirimkannya ke pelanggan melalui internet.
8.      Privacy Issue: merupakan bentuk lanjut dimana web lebih mudah untuk data baru yang secara otomatis dikumpul dan dijumlahkan ke dalam database.    

Strategi CRM dipandang sebagai bagaimana melakukan transisi dari organisasi berorientasi produk menjadi organisasi berorientasi pelanggan. Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam strategi CRM, yaitu:
1.      Membentuk suatu tim. Tim ini dianjurkan tidak lebih dari 10 orang dengan mempertimbangkan semua divisi perusahaan. Agar tim ini bisa bekerja sama dengan baik dan kompak maka tidak ada senioritas di dalamnya dan perusahaan juga harus menganggarkan dana untuk tim ini.
2.      Daftar minimal tiga tujuan yang hendak dicapai. Tujuan ini bersifat jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
3.      Segmentasikan pelanggan perusahaan sedetil mungkin berdasarkan informasi yang diperoleh tentang mereka, misalnya ketidaksukaan mereka terhadap perusahaan, produk atau jasa yang mereka beli dari perusahaan, apa yang mereka suka dari para pesaing perusahaan, dan apa yang mereka harapkan untuk masa yang akan datang.
4.      Identifikasi rintangan atau hambatan yang mungkin, misalnya masalah keuangan dan suasana yang tidak mendukung dari dalam organisasi.
5.      Formulasikan hasil kajian dari langkah 2, 3, dan 4, yaitu dengan membuat daftar prioritas utama dari tiga tujuan pada langkah 2, kelompokan mereka ke dalam tujuan strategis dan operasional sedetil mungkin, fokus pada perubahan organisasional yang mungkin, dan siapkan pengukuran.
6.      Komunikasikan tujuan hasil analisis langkah 5 diatas ke seluruh perusahaan.
7.      Bila perlu lakukan pelatihan ke seluruh jajaran organisasi agar semua komponen organisasi memahami tujuan dan proses yang akan diterapkan.
8.      Rancang media untuk berinteraksi dengan pelanggan dalam segala situasi.
9.      Bila ada tawaran dari vendor tentang solusi CRM yang ditawarkan maka pertimbangkan tawaran itu dengan baik.
10.  Implementasikan suatu bentuk solusi CRM yang berguna sebagai fasilitator hubungan dengan pelanggan,
11.  Lakukan evaluasi dan kembali ke langkah 1.

2.4 Implementasi CRM
Untuk mengimplementasikan sebuah strategi CRM, diperlukan paling tidak 3 (tiga) faktor kunci yaitu (1) orang-orang yang profesional (kualifikasi memadai), (2) proses yang didesain dengan baik dan (3) teknologi yang memadai (leading-edge technology).
Tenaga yang profesional tidak saja mengerti bagaimana menghadapi pelanggan tetapi juga
mengerti cara menggunakan teknologi (untuk CRM).
Apapun tanpa desain yang baik akan gagal, begitu juga CRM. Perusahaan pengguna CRM harus sudah mengetahui tujuan (business objectives) dan tuntutan bisnis (business requirements) yang diinginkan dari implementasi CRM ini. Teknologi CRM paling tidak harus memiliki elemen-elemen berikut:
·         Aturan-aturan Bisnis: Tergantung dari kompleksitas transaksi, aturan-aturan bisnis harus dibuat untuk memastikan bahwa transaksi dengan pelanggan dilakukan dengan efisien. Misalnya pelanggan dengan pembelian besar yang mendatangkan keuntungan besar harus dilayani oleh staf penjualan senior dan berpengalaman, dst.
·         Penggudangan Data (data warehousing): Konsolidasi dari informasi tentang pelanggan harus dilakukan dalam satu sistem terpadu. Hasil analisa harus mampu menampilkan petunjuk-petunjuk tertentu tentang pelanggan sehingga staf penjualan dan marketing mampu melakukan kampanye terfokus terhadap grup pelanggan tertentu. Nantinya gudang data ini juga harus mampu menaikkan volume penjualan dengan cross-selling atau up-selling.
·         Situs (web): Jelas CRM harus memiliki kemampuan swalayan. Hanya aplikasi berbasis situs (web based) yang bisa mendukung ini. Pelanggan bisa melakukan transaksi sendiri, tahu berapa yang harus dibayar, dsb.
Pelaporan (reporting): Teknologi CRM harus mampu menghasilkan laporan yang akurat dan komprehen, nantinya berguna untuk menganalisa kelakuan pelanggan, dll.
Meja Bantu (helpdesk): Teknologi yang mampu mengintegrasikan informasi pelanggan ke aplikasi meja bantu akan menunjukkan ke pelanggan seberapa serius sebuah enterprise menangani pelanggannya.

Banyak perusahaan menawarkan solusi-solusi CRM yang ‘tinggal pakai’ yang memiliki tingkat fungsionalitas yang beragam. Biasanya produkproduk ini sudah cukup memadai. Tetapi bukan itu yang membuat sukses implementasi CRM. Bisnis proses yang terintegrasi dan konsolidasi data yang sudah ada saat implementasi CRM yang bakal menjamin suksesnya CRM itu sendiri. Karena dengan tren bisnis yang ada, tujuan utama sekarang adalah meningkatkan loyalitas pelanggan ke perusahaan kita. Dengan loyalitas pelanggan yang meningkat, kelangsungan bisnis masa depan bisa berlanjut. Perusahaan-perusahaan yang menerapkan CRM mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang pelanggan mereka dan kebutuhan mereka. Dikombinasikan dengan penggudangan data, bank data dan meja bantu atau pusat panggilan (call center), CRM membantu perusahaan untuk mengumpulkan dan menganalisa informasi tentang sejarah pelanggan, apa-apa yang menjadi kesenangannya, apa saja keluhannya dan bahkan data lain untuk mengira-ira apa yang pelanggan akan beli di masa datang.

2.5 Cara Pemakaian CRM
Elemen-elemen yang biasanya terdapat pada sebuah solusi CRM yaitu adanya gudang data (dat warehousing) sehingga seluruh dat berada pada suatu tempat (centralized data), tersedianya ERP untuk back office, infrastruktur yang terintegrasi dalam perusahaan, adanya teknologi call center(telepon dab faxsimili), jarinagn komunikasi untuk interkoneksi customer melalui internet, serta jika memungkinkan adanya media tradisional untuk tatap muka langsung antara penjual  dan pembeli. Di samping itu, ditambahkan juga jalur pelayanan untuk pelanggan melakukan komunikasi atau penyampaian keluhan kepada penjual.
Perusahaan yang menerapkan CRM ini, disebut sebagai customer driven company (perusahaan 4C). perusahaan ini memberikan pelayanan khusus secara individual lewat produk yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Database yang selalu diperbaharui merupakan alat penting untuk melakukan CRM. Komunikasi bersifat interaktif dua arah secara terus menerus. Hal ini dilakukan perusahaaan tersebut ingin sukses dalam situasi persaingan yang kacau, dimana pesaing sering tidak kelihatan dan perubahan seringkali mengejutkan.
Suatu proses memfokuskan pada pandangan jangka panjang, yaitu memberikan perhatian banyak ke lifetime value pelanggan daripada value transaksi. Secara praktis, ada beberapa hal yang bisa dilakukan perusahaan jika menerapkan CRM :
1.      Melakukan dialog terus menerus (ongoing) dengan para pelanggannya yaitu dengan mengunakan web untuk komunikasi secara langsung.
2.      Memperluas pengetahuan tentang kebutuhan pelanggan sehingga perusahaan dapat mengenali kecenderungan pola preferensi dan pembelian pelanggan yang selanjutnya bisa digunakan untuk menciptakan individual customer solutions dari beragam business channel dan divisi, termasuk cross-selling dan up selling.
3.      Menghasilkan usaha marketing yang efesien yaitu menerapkan cara akurat informasi tentang pelanggan yang selalu tersedia dan dapat diakses untuk mencapai target yang lebih tepat.
4.      Mengantisipasi apa yang diharapakn pelanggan yaitu mencapai suatu tingkat jasa baru dengan menawarkan kepada pelanggan informasi dan jasa sesuai dengan yang mereka inginkan.
5.      Mengoreksikan beragam departemen atau divisi secara harmonis dengan memberikan akses data pelanggan kepada call center, sales force dan departemen lain didalm organisasi. Data ini harus realtime.
6.      Memberikan pesan yang konsisten kepada pelanggan secara menyeluruh dalam organisasi yaitu memberikan strategi custemer service yang terkonsolidasi di setiap point of contact dengan pelanggan sebagai unified entity.

2.6 Infrastruktur CRM
Infrastruktur dari CRM adalah Sebagai berikut :
1.      Data pelanggan yang terintegrasi
Kemampuan untuk mengakses, mengolah dan memproses semua yang berhubungan dengan pelanggan adalah salah satu kunci suksesnya CRM. Tanpa data dan informasi yang jelas tentang pelanggan maka akan sulit mengetahui keinginan dan kebutuhan pelanggan.
2.      Hubungan informasi pelanggan yang terintegrasi
Hubungan yang baik dengan pelanggan adalah dengan melayani dimanapun mereka, kapanpun juga, dan dengan sarana apapun. Sebagai contoh Halo BCA yang memberikan pelayan 24 jam.
3.      Bisnis proses yang terintegrasi
Lingkungan bisnis harus terintegrasi, sebagai contoh bila penjualan dan pelayan terpisah. Penjualan selama siklus penjualan dan pelayanan setelah aktivitas penjualan, naka pelanggan akan mendapatkan jawaban yang berbeda tergantung dengan siapa mereka berbicara. Pelanggan memerlukan pelayanan baik pada saat membeli maupun setelahnya.
4.      Extended enterprise yang terintegrasi
v  Customer care
Untuk mendapatkan kesetiaan pelanggan terhadap suatu produk, maka suatu perusahaan harus bekerja sama dengan mitranya, dengan vendor infrastruktur CRM melalui internet dan intranet. Dengan infrastruktur ini , maka perusahaan dan partner dapat berbagi informasi, berkomukasi dan berkolaborasi dengan menggunakan aplikasi web
v  System terintegrasi
Teknologi yang dapat digunakan antara lain:
a)      Legacy System (Sistem Lama)
Banyak organisasi yang masih mempunyai system lama yang tidak bias dihilangkan dan harus terintegrasi dengan infrastruktur CRM. Sehingga membutuhkan system yang dapat mengekstrak data dari system lama ini.
b)      Data warehousing
Data warehouse mengektrak data dari system transaksi  dan menyatukan informasi sehingga lebih efektif untuk dianalisa.
c)      Decision support technology
Memungkinkan pengambilan keputusan berdasarkan data yang berelasi. Juga memungkinkan perusahaan menentukan pelanggan terbaiknya.
d)     Computer Telephony Integration (CTI)

2.7 Alasan diterapkannya CRM
Senjata atau kunci untuk memenangkan pundi-pundi sang raja adalah mengerti dan memuaskan keinginannya masing-masing sambil mengembangkan interaksi dua arah dengan setiap pembeli yang patut diberi prioritas perusahaan. Inilah yang dikenal dengan istilah Customer Relationship Management (CRM) dan dalam perkembangannya menjadi One-to-One Marketing Management. Ada juga yang menyebutnya mass customization.
Dalam model CRM ini kedua belah pihak, pembeli, penjual, harus saling membangun rasa percaya satu sama lain (trust). Saat ini semakin banyak perusahaan besar yang melakukan investasi di bidang teknologi digital untuk mengerti dan menjamin kepuasan pelanggannya. Dengan penggunaan teknologi digital inilah perusahaan dapat meng-customize produknya sesuai dengan keinginan si pelanggan.
Dengan bantuan teknologi digital, semakin banyak perusahaan yang menerapkan model CRM ini. Contohnya perusahaan berskala internasional Levi Strauss yang memulainya sejak 1994 dengan mendesain dan mengukur jeans pesanan setiap pelanggan yang datang ke outletnya, sehingga di lain kesempatan sang pelanggan tidak perlu memilih dari ukuran umum, tetapi ukuran yang khusus dibuat untuk individu tersebut. Perusahaan lain seperti Mattel yang memproduksi boneka Barbie memulainya sejak 1998, pembeli tinggal membuka wab site barbie.com dan mendisain sendiri boneka yang diinginkan.
CRM merupakan suatu fokus yang memfokuskan pada pandangan jangka panjang, yaitu memberi perhatian lebih banyak ke lifetime value pelanggan daripada value bertransaksi. Secara praktis, ada beberapa hal yang bisa dilakukan perusahaan jika menerapkan CRM:
1)      Melakukan dialog terus menerus (ongoing) dengan para pelanggannya, yaitu dengan menggunakan web untuk berkomunikasi secara langsung.
2)      Memperluas pengetahuan tentang kebutuhan pelanggan sehingga perusahaan dapat mengenali kecenderungan pola preferensi dan pembelian pelanggan selanjutnya bisa digunakan untuk menciptakan individual customer solutions dari beragam business channel dan divisi, termasuk cross-selling dan up-selling.
3)      Menghasilkan usaha marketing yang efisien yaitu menerapkan secara akurat informasi tentang pelanggan yang selalu tersedia dan dapat diakses untuk mencapai target yang lebih cepat.
4)      Mengantisipasi apa yang diharapkan para pelanggan yaitu mencapai suatu tingkat jasa baru dengan menawarkan kepada pelanggan informasi dan jasa sesuai dengan yang mereka inginkan.
5)      Mengoneksikan beragam departemen atau divisi secara harmonis dengan memberikan akses data pelanggan kepada call center, sales force dan departemen lain di dalam organisasi. Data ini harus dimutakhirkan secara real time.
6)      Memberikan pesan yang konsisten kepada pelanggan secara menyeluruh dalam organisasi yaitu memberikan strategi customer service yang terkonsolidasi di setiap point of contact dengan pelanggan sebagai unified entity.
Pelanggan dan calon pelanggan ingin berinteraksi berdasarkan syarat-syarat mereka, yang berarti kita perlu melihat beberapa kriteria pada saat mengevaluasi bagaimana untuk langkah selanjutnya yaitu :
v  Penawaran yang tepat.
Mengutamakan penawaran yang terbaik untuk pelanggan dan meminimalkan penawaran yang irelevan.
v  Kepada pangsa pasar/pelanggan yang tepat
Menawarkan produk pada pangsa pasar yang tepat. Tidak semua pelanggan mempunyai keinginan dan kebutuhan akan produk yang sama.
v  Penawaran barang pada waktu yang tepat.
Menawarkan barang pada saat yang tepat pada saat pelanggan membutuhkannya.
v  Melalui saluran yang tepat.
Kita bisa berinteraksi dengan pelanggan kita berbagai macam cara (direct mail, email, telemarketing, dan lain-lain). Kita perlu memastikan bahwa kita telah memilih media yang paling efektif untuk setiap interaksi yang berbeda.

Trend saat ini beralih dari kuantitas ke kualitas. Model CRM dipercaya mampu mewujudkan hal itu. Untuk tetap kompetitif, perusahan-perusahaan  mengembangkan strategi-strategi untuk menjadi customer-focused, customer-driven, customer-centric. Semua istilah ini menjelaskan keinginan perusahaan intuk membangun hubungan dengan pelanggan yang bertahan lama. CRM dipandang sebagai suatu solusi yang membuat usaha-usaha ini berharga untuk perusahaan dan juga untuk pelanggan, jadi pelanggan tidak memandang usaha-usaha sebagai hal yang sia-sia.
Jika diperhatikan mungkin sudah banyak perusahaan yang mengumpulkan dan menyimpan data pelanggan, supplier dan partner bisnis mereka. Tetapi  bagaimana pun juga ketidakmampuan untuk menemukan informasi berharga yang terdapat di dalam data tersebut menyebabkan perusahaan tersebut mentransformasikan data menjadi informasi yang berharga. Untuk itu pihak perusahaan harus:
v  Mengumpulkan dan menggabungkan data internal dan eksternal untuk dijadikan suatu pandangan yang dapat mengarahkan perusahaan pada tujuannya.
v  Gali, cari data yang dibutuhkan untuk dijadikan informasi.
v  Mengorganisasikan dan presentasikan informasi dan pengetahuan tersebut.

2.8 Hambatan CRM
Hambatan penerapan CRM (Customer Relationship Management), yaitu :
1.      Bagi perusahaan  yang belum memiliki ERP penerapan CRM tidak berjalan denagn optimal. Walaupun kami hanya bisa memberikan solusi bagi perusahaan. Tingkat optimalisasinya tidak akan mencapai 100%.
2.      Karena kondidsi perekonomian masih krisis, maka banyak perusahaan yang menunda penerapan CRM. Apalagi harga yang ditetapkan oleh vendor grobal seperti SAP, Siebel dan Oracle relatif mahal dan dihitung dengan mata uang dolar AS. Disamping itu masih banayk tenaga ahli yang didatangkan dari luar negeri.
3.      Yang utama adalah visi. Maksudnya cukup susah mengubah budaya (mind set) orang-orang  yang terlibat didunia TI, terutama yang terkaitdengan CRM. Cukup banyak perubahan yang akan mempengaruhi kepentingan individu kalau perusahaan menerapkan CRM.

2.9 Contoh Aplikasi CRM
Banyak perusahaan di dunia yang menerapkan CRM sejak pertama kali ditemukan. Salah satunya adalah Eli Lilly & Company, sebuah perusahaan farmasi yang mengimplementasikan penggunaan sales-force automation, call center dan beberapa aplikasi software dari Siebel untuk mendukung usahanya dalam rangka memperkenalkan merek produk obat yang dipasarkan. Menurut Roy Dunbar, Chief Information Officer perusahaan Eli Lilly & Company, pasien yang pernah menggunakan mereknya dulu terbiasa menghubungi dokter pribadinya. Tetapi sekarang ia dapat menghubungi perusahaan melalui telpon untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai produk dan merek produknya. Dengan adanya sistem CRM, Lilly memanfaatkan layanan call center untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan pelanggannya.
Penerapan CRM dalam perusahaan farmasi juga mampu mendongkrak penjualan dan meningkatkan hubungan dengan relasi yang paling dasar. Dengan CRM, perusahaan obat-obatan akan mampu mengidentifikasi dokter mana yang proaktif dengan tenaga pemasarnya, mengkalkulasi pendapatan potensial yang diperoleh dari hubungannya dengan para dokter tersebut, menjalin hubungan yang lebih erat dengan para dokter yang merekomendasikan obatnya kepada pasien. Kos Pharmaceutical Inc., sebuah perusahaan farmasi yang memproduksi obat untuk penyakit jantung koroner dan paru-paru, telah mengimplementasikan CRM pada 2003 dengan 500 tenaga pemasarannya. Staff pemasarannya bertumbuh dan mempunyai komunikasi yang lebih baik antara mereka, khususnya ketika mereka mengunjungi dokter yang sama. Para dokter merasa nyaman karena ternyata tenaga pemasaran yang berbeda ini mampu memberikan informasi yang berkesinambungan.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
CRM merupakan hal penting yang perlu diperhatikan oleh perusahaan yang siap bersaing menuju era globalisasi. Perusahaan harus mampu mengakomodasi keinginan stakeholder dan shareholder nya jika ingin berkembang. Kesuksesan dan kegagalan perusahaan tergantung pada kemampuannya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan pelanggannya. Untuk mewujudkan dan menjalin hubungan yang selaras ini perusahaan dapat memanfaatkan IT-Based program dan software-software terkait yang mampu membantu perusahaan dalam mewujudkan efisiensi dan efektivitas kinerja perusahaan.
Program dan software ini harus mampu memberikan kemudahan dan keuntungan pada kedua belah pihak. Bagi pelanggan, program dan software ini sebaiknya mudah digunakan, sangat efektif dan efisien serta dapat dipakai untuk melacak hal-hal yang berkaitan dengan customer relationship. Di lain pihak, pada saat yang sama, perusahaan juga memperoleh manfaat untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan serta memberikan layanan dan pengalaman yang konsisten bagi pelanggannya melalui berbagai sarana dan media yang bisa dipilih oleh para penggunanya. Dengan demikian akan tercipta value chain yang harmonis dalam jangka panjang.


DAFTAR PUSTAKA
http://csrc.lse.ac.uk/asp/aspecis/20050161.pdf
http://www. aspective.com/Solutions/SiebelCRM/Index.aspx
Jones, Jennifer & Trott, Bob, 2001, ‘Getting personal on multiple CRM channels”, InfoWorld, San Mateo: May 7, 2001, Vol 23, lss.19, p.33
Martin, E.W., Brown, C.V., DeHayes, D.W., Hoffer, J.A., Perkins, W.C., 2005, “Customer Relationship Management”, Managing Information Technology (5th ed.), Pearson Prentice Hall, pp. 194-196
O’Brien, James A., 2002, “Customer Relationship Management”, Management Information Systems: Managing Information Technology in the E-Business Enterprise (5th ed.), McGraw-Hill Higher Education, pp.128-131.
Whitaker, Tyler, 2005, “Streamline customer contact”, Landscape Management, Cleveland: Apr 2005, Vol. 44, lss. 4, p.50
Hiasdinata. 2009. “Customer Relationship Management”, Customer Relationship Management (Crm) Dan Aplikasinya Dalam Industri Manufaktur Dan Jasa. Hal.4-19